Archive for Mei 2nd, 2010

Doyan

Mei 2, 2010

Inilah keluarga itu. Sang suami bernama Mas`ud (58 tahun), istri Halimah (46 tahun). Warga Kelurahan Jenggot, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Sang istri saat ini sedang mengandung anak yang ke-22. Bayangkanlah 22, bro.

Selama ini Halimah sudah melahirkan 11 anak laki-laki dan 10 perempuan. Namun tidak semua anaknya hidup. Tiga orang anaknya telah meninggal dunia. Jadi pasangan Mas`ud & Halimah saat ini punya anak 18 orang. Nah, jika anak yang dikandung Halimah selamat lahir ke dunia itu adalah anak ke-19 yang hidup. Demikian salah satu berita yang bisa dibaca di Koran Berita Kota 1 Mei 2010.

Selama 31 tahun pernikahan mereka, berarti Halimah melahirkan setiap satu tahun  empat bulan. Wow… luar biasa untuk ukuran Indonesia. PakOsu berpikir, kok, mereka doyan amat, ya, bikin anak. “Enak kaleee,” kata suara tak jelas.

Kalau yang ini, sih, gambar grafis rumah idaman orang. Didapat dari searching di google.

Kemana Perginya

Mei 2, 2010

Pagi ini, 1 Mei 2010 berita RRI Pro3 jam 9.00 wib.”Kabupaten Aceh Utara tahun ini tidak menerima dana reboisasi dan rehabilitasi hutan sebagaimana tahun sebelumnya,” kata  Edi Sofian pejabat Dinas Kehutanan kabupaten itu.

Jadi gak ada usaha penghijauan kembali hutan yang sudah gundul tahun ini di kabupaten itu, dong. Gak tahulah, karena itu adalah wewenang dan kewajiban pemda setempat.

Dulu jaman orba uang iuran DRR yang dipungut pemerintah kepada pengusaha punya HPH sangat besar. Uang yang terkumpul hanya sebagian kecil, mungkin, yang kembali digunakan untuk penghijauan hutan. Sisanya kemana? Ya, sekali lagi PakOsu gak ngeh. Lha, wong bukan pejabat kehutanan  atau anggota LSM yang fokus kepada hutan, kok.  Cuma PakOsu ingat, dulu uang iuran DRR bisa dipinjam pengusaha untuk kegiatan pengembangan usaha yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan usaha sektor kehutanan. Misal pinjam uang iuran DRR untuk bangun apartemen atau pabrik tekstil. Lha, kok bisa? Ya, bisa, dong. Dasarnya, ya, hubungan baik pertemanan pemegang uang iuran DRR dengan pengusaha  dan “sedikit” uang kadeudeuh dari sang pengusaha. S eperti kata teman PakOsu, “Hepeng na mangatur dunia on.” Ya, kalimat itu berlaku bagi orang yang imannya gak kuat nahan godaan uang.

Hijau Royo-Royo

Mei 2, 2010

Andaikan saja jalan-jalan di Jakarta seperti Jalan Prapanca Raya atau seperti  Jalan Rawajati Barat yang disamping stasiun kereta api Kalibata. Trotoarnya ditanami pohon berakar tunggang dan berkayu keras. Pohonnya rimbun, bercabang banyak dan berdaun lebat. Aih, betapa menyenangkannya jalan sambil mengendarai motor. Udara dingin dan segar sepanjang hari. Semoga posting ini dibaca pejabat dinas kehutanan DKI

Disiplin

Mei 2, 2010

Hidup tanpa keteraturan ternyata tidak akan memberikan hasil yang bagus. Fakta berbicara dan memberikan bukti. Arrrggghhh… gregetan liat hidup kacau begini.

Gemar Menabung

Mei 2, 2010

Jangan besar pasak dari tiang, pesan orang tua. Artinya pendapatan harus lebih besar daripada pengeluaran. Nah, sisa alias selisih dari pendapatan dikurang pengeluaran bisa ditabung atau dibuat investasi lain. PakOsu baca berita Koran Berita Kota 29 April 2010. Begini kata Koran itu :

Berdasarkan data statistik Bank Indonesia per Februari 2010, total jumlah simpanan masyarakat baik giro, tabungan dan deposito mencapai Rp. 1.882 triliun. Nah, simpanan sebesar Rp. 942 triliun ternyata ada di provinsi DKI Jakarta. Padahal jika melihat jumlah populasi penduduk Jakarta yang mencapai 9,04 juta jiwa ini hanya 3 persen  dari total penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 231 juta jiwa. Roy Sembel Chairman Capital Price mengatakan, banyaknya penabung asal Jakarta merupakan kombinasi dari terpusatnya banyak orang makmur di Jakarta, pusat pemerintahan dan bisnis, plus banyaknya fasilitas jasa keuangan di Jakarta. “Otomatis, Jakarta lebih teredukasi tentang jasa keuangan,” katanya.

Posisi kedua, simpanan masyarakat terbanyak ada di wilayah Jawa Timur total simpanan Rp. 177,19 triliun dan wilayah Jawa barat total simpanan Rp. 143,25 triliun.

Jadi kenapa banyak penduduk dari luar daerah tujuan dia hijrah mencari rejeki pergi ke ketiga provinsi itu? Ya, jelas, wong di Provinsi DKI Jakarta, Jatim dan Jabar duit yang tersimpan akeh…

Kerjakan Setiap Hari

Mei 2, 2010
  1. Kewajiban sebagai umat beragama.
  2. Berperilaku dan sikap sebagai seorang karyawan.
  3. Punya Visi yang jelas dalam hidup.  Nah, kalau yang ini mesti ditulis, nih. Kalau angan-angan doang tanpa perencanaan tertulis dan langkah-langkah (ditulis juga) semua akan menguap, lewat doang. Let`s go! Ya, maksudnya dikerjakan, PakOsu.
  4. Membaca buku minimal dua halaman per hari.
  5. Membuat tulisan. Apa saja, pokoknya nulis, ya.

Mereka Memang Ada

Mei 2, 2010

Pernah baca berita tentang Cowboys In Paradise? Itu adalah film dokumenter yang dibuat oleh warganegara India bernama Amit Virmani yang bertindak sekaligus sebagai sutradara. Filmnya, sih, katanya tentang gigolo di Bali yang banyak dilakoni oleh anak pantai penduduk setempat.

Bagaimana persisnya film itu? Wah, kalau pertanyaan seperti itu diajukan ke PakOsu jelas PakOsu gak bisa menjelaskan. Apa pasal? Sebab PakOsu belum nonton film itu dan juga belum baca referensi, ulasan atau kupasan mengenai film itu.

Melihat realitas, jelas penjual jasa sorga duniawi itu ada. Pengakuan Joni, -nama dipalsukan- seperti dia ngomong di tv di berita Global Malam 28 April 2010. Dia sudah memberikan service kepada lebih kurang 600 turis wanita mancanegara. Dari hasil service itu dia berhasil mendapatkan enam orang anak yang diasuh oleh si ibu masing-masing anak di Negara mereka. Dan hebatnya tidak seorangpun dari ibu sianak itu yang minta dinikahi. Lebih hebat lagi si Joni tiap bulan menerima kiriman uang berjumlah Rp. 20 juta dari keenam ibu anaknya. *wuiiihhh.. enak tenan si Joni*

Bukan hanya di Bali, dimana-mana dimuka bumi ini. Kalau yang di Bali itu, jumlahnya mungkin saja tidak sedikit. Banyak pemuda setempat yang menyewakan papan selancar juga berperan ganda yaitu menyewakan “perangkatnya” untuk para turis mancanegara. Bagi turis-turis itu, selagi mereka senang dan menikmati gak jadi masalah. Mereka, para turis itu mana mungkin memikirkan masalah moral atau rasa sopan seperti yang kita anut. *eh, masih gak ya nganut sopan santun* Prinsipnya, mungkin, gua suka loe mau : let`s go!

Ya, seperti kalo kita pergi ke Italia masa sampai disana kita mau cari gado-gado. Bisa jadi pikir turis-turis itu, misal wisatawan Jepang, gua udah sampai di Bali masa harus makan shusi terus? Kalau makanan itu di Negara gua bejibun dan gua bisa bosan disodorin itu-itu mulu. Jadi, gua pengen masakan lokal, ya, selingan gitu, friend.

Ah, daripada omongan gak penting ini berkepanjangan lebih baik disudahi aja. Masalah mau makan makanan import sesekali, itu urusan sampeyan tak iye…