Dua Zak Semen

PakOsu sedang mengatur orang untuk pekerjaan bersih-bersih lantai keramik suatu proyek minimarket di jalan raya Serpong. Tiba-tiba tanpa salam tanpa basa-basi masuk seseorang bersama seorang aparat tentara. Tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu, kedua orang itu langsung meminta dua zak seman. Kata mereka semen akan digunakan untuk membangun sesuatu di asrama baju loreng-loreng yang terletak tidak jauh dari proyek minimarket.

Persoalannya bukan terletak pada jumlah semen yang diminta. Pertama, cara mereka masuk ke properti orang lain tidak menunjukkan sikap seperti kebanyakan yang biasa dilakukan oleh penduduk nusantara. PakOsu masuk lahan milik orang lain yang jelas ada penunggunya pasti minta ijin dulu, setelah sebelumnya memperkenalkan diri dan menerangkan maksud kedatangan. Lha, ini ujug-ujug masuk langsung minta sesuatu tanpa basa-basi.

Ya, PakOsu tahu disitu bertampang layaknya seorang preman dan membawa seorang (oknum) tentara yang berpangkat dua balok merah. Sekarang bukannya jaman main nakut-nakutin, bang. Saatnya sekarang pendekatan yang manusiawi. Pakai cara persuasif. Lihat tuh, di Aceh pakai cara kekerasan bertahun-tahun tidak menyelesaikan masalah konflik. Nih orang, baik preman maupun (oknum) tentara itu, kayaknya kurang baca buku, kurang dengerin berita kali, ya. Sehingga ketinggalan informasi cara pendekatan ke rakyat jelata. Makanya, bang preman dan (oknum) pak tentara banyak baca koran, baca buku. Kalau perlu ikut pelatihan kepribadian supaya punya kemampuan dan ilmu dalam pendekatan ke masyarakat. Eh, ngaco PakOsu kali, nih. Masa tentara dan preman disuruh pelatihan kepribadian, emangnya mau ikut kontes-kontesan…

Sebenarnya yang ingin PakOsu omongkan adalah masalah jasa. Seorang oknum baju loreng-loreng dengan sukarela menemani dan menjadi penyambung lidah untuk seorang oknum preman. Motifnya pasti imbalan yang akan diberikan oleh si oknum preman. Ditingkat rendahan aja sudah begitu. Apa maksudnya begitu? Ya, begitu, deh. TST aja, ya. Coba, bayangkan berapa jasanya kalau untuk beking pengusaha besar. Jadi kalau laporan ICW menyebutkan, seperti yang dilansir koran beberapa waktu lalu, bahwa ada jenderal polisi yang masih aktif punya uang di dua rekening bank berjumlah puluhan miliar rupiah? Ya, tergantung ente-ente aja menyikapinya. Orang punya uang di rekening bank bermiliar-miliar rupiah, ya, sah-sah saja. Asal didapat dari cara yang wajar dan jalan benar. Bahasjim, -pegawai pajak itu, tuh-  bisa punya duit berpuluh-puluh miliar rupiah dari jasa konsultasi perpajakan. Barangkali juga pak polisi yang di curigai ICW membuka konsultasi dibidang penyidikan kasus sehingga punya penghasilan sampingan yang menggiurkan. Mana tau. Ya, gak bro.

Satu Tanggapan to “Dua Zak Semen”

  1. harian aprillins Says:

    yah,, harap maklumlah,, tapi ya lebih rasional deh minta semen buat bikin sesuatu, kan jelas tuh motifnya meskipun cara mintanya amit2 deh.. ngeselin👿

    daripada minta duit bilangnya buat beli semen tapi duitnya dibuat mabuk atau judi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: