Archive for September, 2010

Terdamparku Disini

September 30, 2010

Disinilah aku sekarang, di pedalaman Ketapang. Sebuah kabupaten yang termasuk ke dalam wilayah Propinsi Kalimantan Barat. Kabupaten ini juga beribukota sama dengan nama kabupatennya, yaitu Ketapang.

Mengapa aku bisa sampai di Ketapang? Apakah aku dipindahkan tukang sulap, ilusionis, mentalis, hipnotis dan sejenisnya itu sehingga bisa berada di Ketapang? Atau ketika bermimpi aku berjalan bisa melewati segala rintangan, berjalan diatas air,  bisa terbang juga, tahu-tahu sampai di Ketapang? Kawan, semua itu tidak terjadi atas diriku. Kalau ilusionis, mentalis, hipnotis, tukang sulap dan sejenisnya itu bisa memindahkan orang antar pulau secara massal pemerintah tidak perlu pusing memikirkan segala macam moda transportasi massal yang terjangkau oleh daya beli rakyat. Pemerintah cukup mengadakan tukang sulap dan konco-konconya sebanyak-banyaknya. Hanya diperlukan usaha menyekolahkan rakyat untuk dibentuk jadi tenaga handal untuk jadi ilusionis, mentalis, hipnotis, tukang sulap yang nantinya bertugas sebagai alat mobilitas yang murah dan efektif. Bisa dipastikan biaya untuk menyekolahkan tukang sulap dan sejenisnya itu jauh lebih murah daripada biaya pembangunan infrastruktur transportasi. Tapi syukurlah pemindahan orang dan benda lainnya oleh seorang tukang sulap dan kaum sejenisnya hanya terjadi di acara televisi yang ditayangkan malam hari.

Ikhwal keberadaanku bisa sampai di Ketapang jelas melalui alat transportasi, tidak bisa bim salabim, abra kadabra, lalu secepat kilat -kilat yang mendahului datangnya petir itu- dalam hitungan detik diriku mencelat terbang melayang secara ajaib tanpa dilihat mata manusia dan tiba-tiba sampai di Ketapang. Tidak sesederhana dan semudah itu. Ada proses yang aku lalui secara kasat mata.

Kemiskinan sering membawa orang kepada hal-hal yang tidak baik. Itu sudah sering dikatakan para pensyarah agama. Para penganjur kebaikan yang tanpa mematok tarif itu, -semoga saja tetap begitu adanya- menganjurkan supaya memerangi kemiskinan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Kalau pemerintah jangan ditanya lagi, memanglah tugas pemerintah menghilangkan rakyat yang miskin. Eh, salah omong, maksudku pemerintah berkewajiban mengentaskan kemiskinan dari rakyatnya. Terkadang sering kemiskinanlah yang terlebih dahulu melenyapkan rakyat tidak berpunya dari muka bumi daripada usaha pemerintah. Misal, seorang penduduk meninggal dunia terkena sakit malaria karena tidak terobati. Dia tidak sanggup beli pil kina yang murah, murah versi yang punya uang tentu saja, tersebab kemiskinannya.

Kadang aku bertanya, biarlah itu jadi pertanyaan konyol, benarkah pemerintah berusaha melenyapkan kemiskinan? Sekian bulan menganggur tidak ada satupun  pegawai pemerintah yang menemuiku untuk sekedar bertanya mengapa aku menganggur. Bahkan Pak RTpun, kalau Beliau itu masih dianggap sebagai kepanjangan tangan pemerintah, tidak sudi menanyakan statusku apakah masih berstatus pegawai swasta sebagaimana aku dulu mengisi formulir untuk membuat KTP dan pada baris pekerjaan kuisi dengan kata pegawai swasta. Aku, orang udik ditengah kota, merasa dicuekin. Diabaikan kadang terasa sangat menyedihkan. Apalagi, ada aparat pemerintah, yang menawarkan solusi atas persoalan pengangguran yang saya hadapi. Tidak ada itu, kawan! Dari situasi seperti itu aku suka mengambil kesimpulan dini dan mungkin saja tidak benar, -suka-suka yang menilailah-,  pemerintah memang tidak ada urusan dengan aku sebagai pengangguran. Beda kalau aku ini pengusaha atau menduduki jabatan puncak suatu perusahaan bonafid  pasti ada perhatian pemerintah kepadaku. Lha, iya, pasti ada perhatian minimal tersangkut pajak yang harus kusetor kepada pemerintah. Aku adalah penduduk negeri, rakyat yang jadi pengangguran. Dan rupanya pemerintah tidak peduli denganku. Karena aku adalah adalah rakyat, maka pemerintah tidak peduli dengan aku tersebab pengangguran. Amboi..! Sungguh suatu konklusi yang prematur hasil olahan pemikiran yang dangkal tanpa data valid, hanya berdasar rasa putus asa seseorang tanpa pekerjaan. Kesimpulan ngawur ini tidak dianjurkan untuk diikuti.

Daripada meratapi kegelapan, nyalakanlah lilin untuk menerangi kegelapan itu. Demikianlah nasihat bijak yang sering kubaca di buku-buku motivasi dan self help. Aku mengartikannya daripada menyalahkan pihak lain, -pihak pertama yang pasti disalahkan oleh para penganggur pasti pemerintah- lebih baik berbuat untuk memecahkan masalah diri sendiri. Mengharapkan orang lain untuk memecahkan masalah diri sendiri adalah perbuatan langka yang jarang ditemui dijaman nafsi-nafsi ini. Orang lain sudah sibuk guna menyelesaikan problemnya sendiri, sehingga tidak punya waktu untuk menyelesaikan masalah orang lain. Tapi, kawan, untuk membuat masalah kita selesai memang melalui orang lain atas usaha kita sendiri. Tuhan pun akan membantu menyelesaikan masalah kita melalui perantara orang lain. Dan pertolongan Tuhan datang melalui silaturahmi. Artinya punya hubungan baik dengan sesama. Maka berderinglah teleponku disuatu hari.

“Halo..halo…,” suara seseorang dari seberang sana, suara yang sudah kukenal.

“Halooo…,” aku jawab dengan huruf O dibunyikan panjang untuk meyakinkan kalau dia mendengar suaraku.

“Gimana kabar, bos.”

“Baik, juragan.” jawabku

“Ngerjain proyek dimana sekarang?”

“Sudah hampir dua bulan ini nganggur,” aku menjawab dengan penekanan pada kata nganggur.

“Mau gak kerja di Kalimantan?”

“Asal cocok, kenapa tidak?”

“Saudara saya lagi cari Pelaksana untuk proyek infrastruktur kebun sawit di Ketapang.”

“Boleh, boleh… Aku minta nomor teleponnya, ya. Aku akan hubungi langsung saudara Pak Warno itu. Nanti kutanyakan bagaimana prosedurnya kepada dia,” kataku bersemangat macam anak kerbau yang baru ketemu induknya setelah disapih tiga hari. Gembira bukan kepalang.

“Namanya Mukhlas, ini nomor hpnya. Catat ya, nomornya: nol delapan satu dua, satu nol tiga enam, lima nol….(edited).”

“Ok, sudah kucatat. Suwun, yo. Kuhubungi dia secepatnya, abis ini aku SMS dulu dia untuk perkenalan.”

“Iya, semoga sukses,” kata teman saya itu. Setelah sedikit bercerita ngalor-ngidul kami mengakhiri percakapan itu dengan sebuah ucapan salam keselamatan cara agama yang saya yakini.

Usai pembicaraan pertelepon yang membahagiakan itu, aku berkirim SMS kepada saudara Mukhlas, isinya mengenalkan diri dan menanyakan kebenaran informasi dari saudara sepupunya. Hpku kembali berdering, dilayar kubaca nama Mukhlas.

“Halo, halo, ini mas Alris, ya?” suara Mukhlas dari seberang sana.

“Ya, saya sendiri.”

Rupanya Mukhlas sudah mendapat sedikit informasi mengenai pengalaman kerjaku dari saudara sepupunya. Juga  profil tentang aku sudah diceritakan seperlunya oleh saudara sepupunya itu.

“Gimana, emang minat mau kerja di Kalimantan?”

“Kalau cocok kenapa tidak?” jawabku

“Saya butuh Pelaksana dan dua orang Logistik proyek. Kalau mas Alris minat, bikin surat lamaran lengkap antar langsung ke PT….(edited) alamatnya di Jl. Hayam Wuruk no….(edited), Harmoni, Jakarta.”

“Oke, mas. Aku bikin lamaran lengkap itu. Nanti hari rabu kuantar ke alamat yang disebutkan tadi. Terima kasih, lho, sudah kasih info ke aku.”

“Nanti kalau ada yang tanya, bilang rekomendasi dari Mukhlas, Site Manajer yang di Ketapang. Kalau bisa ketemu Pak…(edited) sekalian. Itu direktur operasionalnya,” Mukhlas menjelaskan.

“Ok, mas, siap,” jawabku. Kegembiraan terpancar di wajahku secerah sinar matahari menjelang sore Jakarta saat itu.

Setelah berbasa-basi dan saling mengucapkan sukses, pembicaraan indah itu aku akhiri dengan ucapan salam khas yang berlaku umum versi agama yang aku anut.

Esoknya aku menyiapkan persyaratan yang dibutuhkan untuk sebuah lamaran pekerjaan. Membuat surat lamaran kerja; curriculum vitae bin riwayat hidup; memfotokopi ijazah, surat pengalaman kerja, KTP, SIM C; membuat pas foto ukuran 4×6 cm. Bahkan NPWP pun saya buatkan hardcopy-nya,-rasanya tidak afdhol hidup kalau berdiam di negeri gemah ripah loh jinawi tidak punya NPWP, bayar pajak itu lain persoalan. Setelah semua syarat untuk sebuah lamaran pekerjaan lengkap, seluruh berkas itu kumasukkan ke amplop berwarna coklat yang bertali diujungnya. Besok hari akan saya antarkan lamaran itu ke perusahaan kontraktor yang diinformasikan oleh sdr. Mukhlas.

Rabu, 7 Juni 2010, -Kawan, aku ingat persis tanggalnya- hari itu sekitar jam sembilan pagi dengan keyakinan tinggi dan rasa optimis meluap aku berangkat dari tempat kumenginap di Depok. Dengan konsentrasi terpusat pada jalan raya yang dilalui aku melaju pakai sepeda motor buatan Jepang menuju kantor perusahaan kontraktor yang akan kulamar itu. Dibutuhkan waktu dua jam dari Depok sampai ke daerah Harmoni, Jakarta dimana lokasi perusahaan itu berada. Setelah menemui pegawai front office, menyampaikan maksud kedatanganku, aku disuruh oleh pegawai itu menghadap Bapak J yang berada di lantai dua kantor itu. Aku naik ke lantai dua, masuk ruangan Bapak J langsung diterima yang bersangkutan. Aku serahkan berkas surat lamaran. Dibaca Beliau, lalu:

“Sudah lama kenal sama Mukhlas?”

“Baru, Pak,” kataku.

“Saudara sepupunya temanan sama aku, kami  pernah bekerja dalam satu proyek yang sama,” aku menambahkan. Setelah sedikit bicara pengenalan diriku, Bapak J memberitahukan, bahwa wawancara berikutnya seminggu lagi, masalah teknis, akan dilakukan oleh Bapak A. Aih.., kata wawancara selalu bikin aku dagdigdug.  Basa-basi ala kadarnya, lalu aku mohon diri dari ruangan Bapak J dan segera pulang.

Seminggu kemudian aku kembali menyambangi kantor perusahaan, bertemu dengan Bapak A. Setelah berkenalan, Bapak A membaca cvku dan mulai bertanya atas pengalaman kerja yang tertulis di cv itu. Aku memberikan penjelasan singkat, tidak bertele-tele, jelas dan langsung kepada apa yang dimaksud oleh yang tertulis dalam cv itu. Beliau cukup puas mendengar penjelasanku. Atau mungkin dia punya waktu pendek sehingga sengaja menunjukkan raut muka puas, mana taulah awak!

Bapak A berkata, “Semua penjelasan tadi perlu pembuktian dilapangan. Bisa saja cv dibuat sebagus mungkin, tapi kalau tak cakap dalam bekerja? Manalah laku.” Aku mengamini sabda Beliau dengan takzim. Lalu Bapak A memberikan tantangan untuk berangkat ke lapangan dalam waktu dekat. Lapangan adalah penamaan lain dari proyek yang sedang dikerjakan biasanya berada jauh dari kantor. Aku terima tantangan itu dengan syarat hari raya lebaran idul fitri aku dipulangkan ke Jakarta transportasi ditanggung perusahaan. Lalu aku minta dievaluasi  setelah lebaran. Kalau kinerjaku memuaskan perusahaan, silahkan dikirim lagi ke proyek. Jika performace aku tidak memberikan kontribusi positif buat perusahaan kontrak kerja antara aku dan perusahaan tidak usah dilanjutkan. Beliau setuju dengan permintaanku itu. Aku kembali disuruh menghadap Bapak J tiga hari setelah wawancara itu.

Sesuai dengan yang dijanjikan Bapak A supaya menghadap lagi ke Bapak J, maka tiga hari kemudian aku bertemu lagi dengan Bapak J. Pembicaraan dengan Bapak J berlangsung tidak terlalu lama, sekitar setengah jam. Beliau cuma menjelaskan hak yang saya terima sebagai karyawan, contact person, jalur komunikasi dalam proyek dan kapan aku diberangkatkan ke lokasi proyek di Kalimantan. Pada saat itu aku minta draft kontrak kerja dengan  perusahaan. Setelah item-item kontrak disetujui, pada saat itu juga kontrak kerja langsung aku tandatangani. Tiga hari setelah penandatangan kontrak kerja, aku diberangkatkan ke  lokasi proyek yang berada, nun jauh, di pedalaman Ketapang, Kalimantan Barat. Kenapa nun jauh? Dusun terdekat dari proyek, yaitu dusun masyarakat Dayak setempat, berjarak 10 kilometer. Kalau mau ke ibukota kabupaten, Ketapang, maka harus berkendara motor selama lebih kurang delapan jam, -kalau cuaca baik- dengan sekali menyeberangi sungai dengan perahu klotok. Angkutan umum hanya ada dalam mimpi. Bahwa mimpimu akan jadi kenyataan, yaitu ada jalan negara dengan perkerasan yang memadai, tunggulah waktu 10 atau lima belas tahun lagi. Itupun Anda belum keburu dipanggil ke alam lain oleh Sang Khalik. Proyeknya berada di tengah kebun sawit milik salah satu konglomerat negeri ini.

Dimulailah pengabdian, penghambaan diri tepatnya, untuk orang lain jilid berikutnya dalam hidupku. Inilah keadaan benci tapi butuh.
Tulisan ini ada copy paste-nya disini.

catatan lebay:
Atas kebaikan Site Manajer Proyek aku bisa mengetik dan posting tulisan ini. Terima kasih IndosatM2.
Aku posting tulisan ini dengan diiringi lagu Nikita by Elton John. Ingatanku melayang ke anak-anakku, airmataku meleleh. Cengengkah..?

Iklan

Kenapa Yahudi Pintar ???

September 12, 2010

Bangsa Yahudi adalah salah satu bangsa yang menguasai dunia karena kecerdasan dan kelicikannya baik dari segi sains, bisnis, maupun teknologi.

Allah Ta’ala memang telah menganugrahkan kepada bangsa Yahudi suatu kelebihan berupa otak yang cemerlang. Dan sungguh sangat menarik mengetahui kenapa orang Yahudi begitu pintar dan mempunyai kelebihan dibanding bangsa-bangsa lain di atas dunia ini. Tentu saja dalam hal ini hanyalah sebatas kelebihan dalam hal urusan keduniawian…

Berikut ini sebuah artikel yang akan memaparkan sedikit sebab dari fenomena kelebihan mereka ini.

Marilah kita simak dengan seksama artikel di bawah ini, kemudian membahasnya bersama di kolom komentar dan jangan lupa mari kita SHARE / BAGIKAN agar saudara-saudara kita juga mempunyai kesempatan membaca artikel berharga ini.

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar?”

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri? Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Persiapan Melahirkan
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.
Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.
Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?”
Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.”
Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya. Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.

Cara Makan
Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.
Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.
Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),” ungkapnya.
Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.
Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.
Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

ROKOK
Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.
Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.
Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).
Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.
Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.
Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak.
Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.

1 – 6 SD
Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !” katanya.
Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.
Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Sekolah Menengah – Perguruan Tinggi
Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.
Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya.
Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!
Anda terperanjat? Itulah kenyataannya.

Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan.. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

PENDIDIKAN ANAK DI PALESTINA
Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza.

Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.
Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran.
Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. “Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.

Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur’an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka.
Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.

Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya.
Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.
Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!” Kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. “Lihat saja Indonesia,” katanya seperti dalam tulisan itu. Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!!
“Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?”

Sumber Majalah Sabili

Tambahan :
Dicopy dari :  Postingan Indah Novianti

* Jika ada buah, mendahulukan makan buah sebelum makan berat adalah sesuai dengan sunnah/cara makan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam.
* Memanah, berkuda, dan berenang adalah olahraga yang paling dianjurkan oleh Rasulullah Sallalahu ‘alaqihi wasallam kepada ummatnya.
* Untuk ibu yang sedang mengandung, sangat dianjurkan untuk sering membaca atau mendengarkan Al-Qur’an.

Yahudi dan Babi

(Setelah diedit)
Wah ternyata pada tulisan saya ini sebelum di-edit, saya benar-benar salah paham dan salah informasi tentang kebiasaan orang yahudi memakan babi. Ternyata orang yahudi juga sama dengan orang Islam, yaitu tidak memakan Babi… Jazakumullahu Khoir akhi Arlinda Herman ‘Jr atas koreksinya.

Yahudi dan ROKOK

Sebagaimana kita telah baca dalam artikel diatas, rokok adalah barang yang tabu bagi mereka. Akan tetapi tahukah anda Philip Morris adalah seorang Yahudi, adalah pemilik perusahaan rokok yang telah menguasai 50% pasar rokok di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, HM Sampoerna adalah termasuk milik Philip Morris.
Jadi apa yang bisa anda banggakan wahai perokok???

Wallahu ‘alam
Semoga bermanfaat.

catatan: Bahan posting ini saya dapat dan ramu dari beberapa sumber. Tidak ada tulisan original saya selain kalimat pada catatan ini.

Daripada Gak di-Update

September 9, 2010

Naa.. lama nian blog PakOsu tidak diupdate, ya. Memang begitulah kenyataannya, kawan. Ibarat mau makan besar, ini PakOsu beri dulu makanan pembuka. Nanti menyusul posting tentang kemana aja selama ini PakOsu “nyungsep dan tenggelam.”  Sementara ini foto-foto dulu,ya. Satunya foto narsis salah satu my angel: motivator ulung nomor satu sedunia.

Kalau hujan beginilah jalan yang kami lalui setiap hari jika mau pergi dan pulang kerja. Keluh-kesah tidak berlaku disini, kawan!

Inilah salah satu motivatorku, penyemangatku, untuk berbuat terbaik dalam menjalankan "siksaan menyenangkan" itu. Tak cukup kata untuk mengungkapkannya.

Dan tahukah anda senjata yang  bisa mengalahkan malaysia kalau kita berperang melawan mereka? Abra kadabra… ini dia:

Tidak perlu repot-repot kita berperang untuk melumpuhkan negeri jiran yang sering mengklaim produk budaya Indonesia sebagai milik mereka dan sering melecehkan negara kita, cukup ekspor sebanyak-banyaknya barang ini ke negara mereka.

Nah, kalau yang foto terakhir itu didapat dari situs kaskus.us. Copy paste dari posting ini ada disana.